Sejumlah pemohon mengungkapkan bahwa jalur resmi justru terasa berbelit dan memakan waktu. Mulai dari proses mengambil formulir, mengikuti ujian teori, hingga tahap praktik, semuanya dianggap berjalan tidak wajar. Namun anehnya, ketika diarahkan oleh oknum tertentu, seluruh proses tersebut tiba-tiba bisa dipermudah asalkan pemohon bersedia mengeluarkan biaya tambahan.
Kondisi ini memicu kecurigaan bahwa adanya jalur belakang bukan sekadar rumor, melainkan diduga benar-benar terjadi dan dibiarkan. Warga mulai mempertanyakan bagaimana pengawasan dilakukan di lingkungan Satpas, terutama oleh Kasat Lantas Polres Magelang Kota serta Baursim yang dianggap seharusnya bertanggung jawab atas tertibnya pelayanan.
Beberapa pemohon yang merasa tertekan memilih untuk diam, bahkan ada yang pasrah mengikuti permintaan oknum karena khawatir proses pengurusan SIM mereka akan semakin dipersulit jika menolak. Situasi tersebut memperkuat kesan bahwa pelayanan publik masih rawan disusupi praktik tidak etis yang merugikan masyarakat.
Warga berharap pihak terkait segera turun tangan untuk menertibkan pelayanan di Satpas Magelang Kota. Transparansi, profesionalitas, dan integritas petugas menjadi harapan utama agar masyarakat dapat mengurus SIM tanpa rasa takut maupun tekanan.
RED
